Minggu, 05 Februari 2012
Karung tidur
pernah menonton suatu acara televisi lagi yang menjadi bahan evaluasi kita,lagi-lagi membahas mengenai "nikmat tuhanmu yang manakah yang kau dustakan"..
acara tv yang suka sekali saya tonton, kali ini bercerita tentang sebuah suami istri yang sekiranya berumur 60 tahunan, dengan 6 anak. dimana anak pertama sudah sangatlah dewasa kira2 berumur 25 tahun, dan anehnya, kelima anakanya masih kecil dan kira-kira berumur 6-12 tahun. terlepas dari itu semua, kembali ke topik cerita.
bapaknya "sang suami" yang kondisinya sakit dan tidak bisa bekerja keras, sehingga iya hanya berjalan dan mencari tanaman enceng gondok untuk dikeringkan dan kemudian dibuat menajdi tas. kemudian ibunya "sang istri" selain bekerja serabutan juga bekerja membantu si bapak untuk membuat tas encenga gondk yang harganya hanya berkisar 15rb saja.
satu anaknya yang telah dewasa tadi bekerja mencari batu disebuah kubangan tanah liat, dan hanya dibayar 30rb atas 50 keping batu yang ia usahakan satu hari penuh, dan juga belum tentu tiap minggnya ada yang beli. dengan badan hitam nya yang terbakar sinar matahari setiap hari, dia menangis mengatakan bahwa," biarlah saja saya yang menanggung kesusahan ini, biarkan adik-adik saya saja yang sekolah dan mendapatkan kesempatan yang lebih baik, saya rela tidak bermain bersama teman-teman saya,dan saya rela tidak bersekolah bersama teman-teman seumuran saya yang sudah satya tanggalkan seragam itu pada waktu SMP". sungguh tak dapat ku teteskan air mata ini, dimana ku merasakan tidak mendapatkan biaya dari orang tuasaya untuk melanjutkan sekolah S2 serasa dunia ini tidak adali, bahkan merasa menjadi anak yang tidak beruntung, padahal ... T.T
kemudian malam pun datang, bahkan listrik untuk penerangan saja tidak tersedia dalam rumah itu, untuk beljar mereka menggelar beberapa karung bekas beras, maupun gandung diatas tanah pasir yang menjadi lantai keseharian mereka, bersama tidur dalam satu ruangan pun dilakukan dalam rumah itu, dengan alas karung dan tanpa selimut. mereka terlelap.. dengan keadaan yang begitu, sungguh tak adalagi yang bisa menahan tangis derita keluarga itubagi yang menontonnya.
keesokan harinya, sang pendamping, orang yang memiliki kecukupan dan istilahnya sukarelawannya, mengajak mereka bermain, jalan-jalan,dan kemudian pulang dalam keadaan rumah sudah rapi, mereka menangis. sang bapak melihat bebrapa ekor kambing didpan rumah menangis senang, anak yang terkecil menangis tidak bisa berkata-kata, karena itulah kebahagiaan mereka. sungguh kebahagiaan yang tak terucapkan lagi..
masuk kedalam rumah melihat banyak sembako sang ibu menangis terisak, sujud syukur mereka tak terlupakan, dan yang terakhir terdapat kamar dan meralaskan karpet, juga dilenglapkasur emreka sangat mengangis dan ibu berkata " seumur hidup hingga kini saya tidak pernah tidur dikasur, sekarang saya punya kasur, terimakasih.." begitu berartinya kasur itu bagi mereka.. kemudian kaka, tadi ikut menagis karena ternyata ia memiliki cita-cita untuk membuatkan kamar adik-adiknya yang juga belum terwujud,,, dan kini telah ada di hadapannya. senang melihat orang bisa berbagi seperti iru.. andaisaja semua orang dapat saling berbagi, mungkin tak ada lagi yang menitikan air mata dukadidunia ini..
bahan evaluasi untuk kita.
Langganan:
Postingan (Atom)